Update Aja
  • Home
  • MEDING REDAKSI
  • Breking News
  • Menu
  • _Menulis
  • _Opini
  • _Motivasi
  • _Karier
  • _Gaya Hidup
  • _Event
  • _Cuitan
  • _Cerpen
  • _Artikel Pendidikan
  • _Bisnis
  • _Bimbingan Konseling
  • _Catatan Mahasiswa
  • _Cerpen
  • _E-commerce
  • _Berumah Tangga
  • _Resensi
  • _Tutorial
  • _Seputar Web
  • _YouTube
  • _Pendapat
  • _Lintas Organisasi
  • _Puisi
  • _Potret
HomeCerpen

Cerita Pendek | Yolanda

byRedaksi -June 19, 2021
0

  



Oleh: Dya Nisa Nurul Kamila

"Dasar anak gak tau diri!" hardik lelaki paruh abad itu penuh penekanan dalam setiap katanya. Ucapannya bak anak panah yang tepat menyasar hati Yolanda. Bukan sekedar kalimatnya yang menyakitkan, tapi juga larangan keras dari pria yang menjadi alasan kelahiran gadis itu membuat dia makin menangis. Bagaimana tidak, keinginannya untuk melanjutkan kuliah di luar kota ditentang habis-habisan oleh beliau. Lebih dari itu, Yolanda ingin dijodohkan dengan seorang anak saudagar kaya di kampungnya. 

"Tapi Yola kuliah juga buat nyenengin bapak sama ibu nantinya, Yola janji gak akan ngecewain bapak sama ibu, please, Pak, izinin Yola ya, Pak," rengek gadis berambut lurus itu. Sayangnya permohonan demi permohonan yang dia ucapkan malah membuat ayahnya semakin marah pada putri sulungnya itu. Menurutnya buat apa sekolah tinggi-tinggi jika pada akhirnya dia hanya akan berakhir sebagai ibu rumah tangga. Buang-buang uang saja! 

"Bapak gak mau tau, Minggu depan kamu akan bapak nikahkan sama Bayu. Juragan sudah menyiapkan semuanya, bisa mati bapak kalau tiba-tiba dibatalkan gitu aja." 

"Tapi, Pak–" Pria setengah baya itu menepis tangan anaknya, membuat Yola terjengkang. Bak disambar petir di siang bolong. Yola benar-benar terkejut atas keputusan Bapaknya itu, pasalnya dia tidak pernah diberi tahu akan hal ini. Memang, Pak Agus—bapaknya—sudah pernah memberi tahu akan rencana perjodohan yang pada akhirnya ditolak mentah-mentah oleh Yola. Bukan tanpa alasan, gadis itu baru saja menamatkan pendidikannya di tingkat menengah akhir. Bahkan, wisuda pun belum terlaksana karena bencana alam menimpa sekolahnya, yang mengharuskan gedung berlantai dua itu direnovasi. 

Agus meninggalkan Yola yang terisak tanpa berani bersuara. Gadis itu kembali luruh setelah sebelumnya dia berusaha mencekal bapaknya demi negosiasi yang belum usai. Dia makin terisak, tidak terbayang, bagaimana masa depannya nanti jika dia benar-benar akan menikah dengan Bayu—putra saudagar terkaya di kampungnya. 

Gadis itu mendongak, dia berusaha baik-baik saja demi rencana B yang sudah disiapkannya matang-matang. Dia berpikir keras, bagaimana caranya mendapat sedikit bekal untuk perjalanannya menuju Jakarta malam nanti. Iya. Yola sudah merencanakan semuanya. Jika usahanya membujuk sang ayah gagal, maka plan B akan dilaksanakan. 

Telepon genggamnya bergetar, sebuah panggilan masuk atas nama Sebastian, dia adalah anak kepala desa yang kebetulan juga mengenyam pendidikan di ibu kota sana. Rencananya Yola akan menumpang bersama lelaki berkaca mata itu. 

"Jadi, 'kan, Yol?"

"Jadi, tunggu aja." 

Setelah mengakhiri panggilan gadis itu bangkit, lalu perlahan mengeluarkan kopernya dari lemari. Dengan air mata yang menganaksungai dia menata lembar demi lembar pakaian yang sudah dia persiapkan sejak semalam. Segalanya sudah matang direncanakan, meski sejujurnya dia tidak benar-benar berharap ini terjadi, tapi semesta memaksanya melakukan ini semua. Ini bagian dari perjuangan! pikir Yola. 

"Yolanda." Sebuah suara mengejutkan gadis itu. Dia berbalik seketika, menjatuhkan sehelai kain yang biasa digunakannya untuk membalut diri. 

"Ibu? Emh, ini Yola cuma—" Gadis itu tergagap, dia terkejut bukan main, sebab ibunya menangkap basah dirinya sedang berkemas pakaian. Apa yang akan wanita yang mulai beruban itu pikirkan? 

"Ibu tau, kok. Sudah, gak apa-apa, lanjutkan, ibu cuma mau lihat anak ibu siap-siap berangkat kuliah," ucap wanita bertai lalat di dagu itu tersenyum. Air mata Yola tak terbendung lagi. Sudut bibirnya tertarik menjauh seiring dengan sudut matanya yang kembali basah. 

"Maafin Yola." Gadis itu berhambur ke dalam dekapan ibunya. Dia bahagia sekali! Ibunya mendukungnya seratus persen. Meski ia tau ibunya tak bisa berbuat apa-apa demi menghalau rencana bapaknya, setidaknya wanita itu mendukung kemauan Yola. Itu sudah asangat cukup. 

"Berjuang, seng rajin, jangan lupa disertai doa," lirih Yati memberi Yola sedikit wejangan. Yang di pelukan masih terisak, kini air matanya adalah air mata haru, bukan lagi luka seperti tadi. "Udah, ndak usah nangis, ini, ibu ada sedikit rejeki, buat sangu*," lanjutnya sembari menyodorkan amplop berisikan beberapa lembaran bergambar presiden pertama beserta wakilnya.

"Apa ini, Bu?" Yola menerimanya ragu, pasalnya memang hal yang sangat kecil kemungkinan ibunya memiliki uang sebanyak itu. 

"Pangestuku**," jawab Yati membingkai wajah Yola dengan tangannya yang mulai keriput. 

"Bu?" Tatapan Yola kini penuh tanya pada wanita yang paling berjasa dalam hidupnya. Dia tahu betul, ibunya sudah tidak sanggup bekerja. Buruh pun hanya sebagia tukang cuci, dia yakin gajinya tidak sebesar ini. Apa Bu Yati pinjam pada majikannya? batin Yola terus bertanya-tanya.

"Wes, dirampungke*** kemas-kemase, ibu ke belakang dulu." Wanita itu bangkit, lalu menghilang di balik pintu kayu yang sudah mulai reot. "Sebelum berangkat jangan lupa makan, nanti ibu bawakan ke sini," ucapnya lagi sebelum kembali menghilang. Hati Yola menghangat karenanya. Dia tersenyum getir membayangkan betapa susahnya Bu Yati berjuang demi uang yang digenggamnya kini. Dalam hatinya dia bertekad harus membuat ibunya serta ayah yang meremehkan cita-citanya menjadi bangga akan keberhasilannya nanti. 

"Yola janji, Pak, Bu, dan itu pasti akan Yola buktikan. Percayalah," bisik Yola penuh ambisi. Dia tersenyum yakin sembari mengepalkan tangannya penuh semangat. Api semangatnya telah disulut oleh senyum dan kepercayaan yang ibunya berikan tadi. 

***

Waktu berjalan sangat cepat, jam dinding di kamar Yola sudah menunjukan pukul 23.48 sebentar lagi waktunya. Dia tak sabar menunggu waktu, tapi demi kemulusan rencananya dia harus sedikit lebih sabar. Ibunya masih belum datang mengabari keadaan. Biasanya saat tengah malam Agus akan pergi ke rumah juragan untuk melaksanakan jaga malam. 

Dengan gelisah Yola menunggu suara ketukan pintu terdengar. 

"Yol, bapakmu udah berangkat." Suara itu mengejutkan Yola yang tengah melamunkan banyak hal. Haha iya, dia masih ragu meninggalkan ibunya. Hatinya pasti tak tega membiarkan ibunya seorang diri merawat kedua adik beserta melayani bapaknya. Apa dia akan baik-baik saja? Tapi demi sebuah cita-cita mulainya di masa depan, dia harus berjuang. 

"Dihabiskan susunya," ucap ibunya ketika gadis itu sudah beranjak dengan seteguk terakhir susu coklat kesukaannya. 

"Makasih banyak, Bu," lirih Yola menitikkan air mata. Dia mendekap ibunya erat. Menangis tergugu di pundak wanita setengah abad itu. 

"Udah, berangkat. Bastian nunggu di mana?" 

"Gang depan." 

"Udah, jangan nangis. Senyum dong, kan mau ke Jakarta, mau kuliah." Air mata Yola kembali luruh, dia mengecup punggung tangan ibunya lama. Membiarkan air matanya membasahi tangan ringkih itu. Yati mengusap kepala anak gadisnya itu penuh haru. Dia lebih memilih kehilangan tempat tinggalnya, dari pada membiarkan anaknya menikah dengan seorang gila seperti Bayu. Iya, lelaki itu mengidap masalah kepribadian. Dia akan menjadi sangat tempramental pada saat tertentu, tapi bisa juga lembut, namun mematikan pastinya. 

Ah, iya, uang yang Yati berikan pada Yola tadi adalah hasil dia menggadaikan sepetak tanah yang dipijaknya kini. Entah dari mana dia bisa membayarnya nanti, tapi yang penting Yola bisa selamat, pikir Yati begitu. 

"Yola, ayo!" seru sesosok lelaki dengan jaket hitam yang melekat pada daksa tinggi itu. 

"Eh." Yola terkejut mendapati Bastian di depan rumahnya. 

"Lo lama," ucapnya menjawab tanya yang Yola sampaikan dari tatapan matanya. "Bu, Tian, izin pinjem Yolanya, ya," lanjutnya mencium tangan Yati. 

"Kalian saling menjaga, ya." Yati menatap haru kedua anak Adam itu. "Belajar yang rajin, jangan kecewakan orang tua kalian." 

"Kita berharap banyak," pungkasnya tersenyum lalu masuk begitu saja ke dalam rumah. Tangisnya tak terbendung, hanya saja Yati tidak ingin Yola melihat air matanya. Dia ingin anaknya menjadi pribadi yang kokoh. 

"Yuk, berangkat," ucap Bastian menyadarkan Yola dari lamunannya. Gadis itu tersenyum, lalu mengangguk mantap. Matanya masih terpaku pada pintu yang tertutup menyembunyikan ibunya yang menangis. 

"Yola berangkat, Bu, jaga kesehatan, jaga semuanya." Air matanya kembali menetes, membuat lelaki jakung di sebelahnya mencebik. 

***

Di mobil hanya deru mesin yang terdengar. Kedua anak Adam ini membisu bergelut dengan isi kepala masing-masing. 

"Bokap lo gimana?" Bastian berusaha memecahkan keheningan yang meraja. Lelaki yang usianya dua tahun di atas Yola itu sebenarnya menyimpan rasa yang tak seharusnya pada gadis manis di sebelahnya. Itu mengapa dia rela menunggu tengah malam untuk berangkat meski sebenarnya dia bisa egois dan meminta Yola mengikuti kebiasaannya berangkat sore. 

Di samping dia ingin Yola mewujudkan citanya, dia juga tak rela jika gadis yang akan genap 18 tahun bulan depan itu menikah dengan seorang temprament. Dapat dipastikan hidupnya takkan bahagia.

"Masih sama," jawab Yola tersenyum miris. "Seberat ini ya?" lanjutnya menatap lenggangnya jalan malam. Bastian tak menyukai ini, kenapa dia bersedih begitu? Dia paham keadaanya, tapi seharusnya dia semangat demi membuktikan bahwa dia bisa!

"Ck! Mana nih, semangatnya yang mau kuliah di Jakarta?" Sembari mengacak lembut rambut Yola. Gadis itu tersenyum tanpa menjawab, dia hanya memamerkan lengkung indah di bibirnya. 

"Semangat dong! Ini bagian dari perjuangan. Perjuangan lo, demi sebuah cita-cita mulia. Buat Ibu, Eli, sama Eki." Ah, iya. Ini bagian dari perjuangan, Yola harus semangat, dia tak bisa begini terus. 

"Ingat kata Najwa Shihab?" Bastian memalingkan wajahnya pada Yola. "Hidup gak akan dimenangkan, kalau gak dipertaruhkan!" tukasnya membuat lawan mainnya tersenyum yakin. 

"Lo harus menang." 


_The End_ 

 foot note : 

*Saku/bekal 

***Restuku

***Diselesaikan 


Bionarasi singkat : 

Bernama lengkap Dya Nisa Nurul Kamila, lahir di bumi Jawa tengah pada tahun 2005. Merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara, gadis itu bermimpi menjadi mutiara dalam keluarganya agar bisa mengangkat derajat keluarga tercintanya. Memiliki hobi 3M; membaca, mendengar dan menulis. Sebut saja dia Dysa, doakan semoga dia bisa menjadi seperti yang diinginkannya. 

Ingin mengenalnya lebih dekat, bisa kunjungi dia di ; 

Ig: @dyanisakamila

FB: Dya Nisa Kamila

WP : dyanisa_kamila 

E-mail : dyanisakamila@gmail.com

Tags: Cerpen
  • Facebook
  • Twitter
You may like these posts
Post a Comment (0)
Previous Post Next Post

Popular Posts

Puisi

Hidup Bersama Kenangan

Membongkar Ide Menulis

Forsil Bani Lamsidin Gelar Khotmil Qur'an

Berjuang Tanpa Lelah

Jujur Dapat Kawan

Responsive Advertisement

Featured post

Perlunya Memperhatikan Pedoman Penyusunan Proposal Skripsi atau Skripsi

Redaksi- May 10, 2021

Berita Utama

GilaBola+

Contributors

  • My photo
    Editor Show more
  • My photo
    Redaksi Show more
Design by - Blogger Templates
  • Home
  • About
  • Contact Us
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Sitemap

Contact Form