"Zaz, kalau kamu setuju Bibi punya calon untuk mu" tawarnya Bibi ketika aku pulang dari kampus.
"Kalau boleh tahu siapa dia, kalau cocok nanti lanjut saja sesuai kesepakatan keluarga," jawabku membuat Bibi senang.
"Iya sudah aku akan sampaikan ke ibumu," lanjutnya Bibi.
Tak lama kemudian Bibi langsung menghampiri ibu yang sedang istirahat di rumah. Ibu langsung bertanya kembali apakah bersedia atau tidak, jawabanku sama. Kemudian ibu menyarankan untuk menemui calon yang akan dikhithbahkan. Karena dia ada di pesantren, jadi harus berkunjung. Ibu langsung menghubungi keluarga dekatnya calon yang akan dikhithbahkan, pada waktu itu juga langsung mengunjunginya.
Dalam perjalanan tiada kata yang aku katakan dengan bibi yang menghantarkannya. Ia hanya bertanya, kenapa tidak mencari calon di kampusnya saja. Jawabanku, kalau masih ada calon di pesantren tidak apa-apa mengutamakan yang santri saja.
Sesampainya di pesantren, aku langsung ke tempat pemanggilan. Bibi langsung pergi ke asramanya sedangkan aku menunggu di tempat yang sudah disediakan. Beberapa menit kemudian, Bibi datang bersama perempuan yang akan aku khitbah. Pertemuan itu seolah-olah hanya berkunjung saja, perempuan itu tidak curiga sama sekali kalau dalam kesempatan itu untuk mengetahui tentang dirinya.
Setelah lama Bibi berbincang bebas, akupun belum sama sekali memberikan keputusan walaupun berkali-kali ditanya atas kesiapan. Karena tidak kunjung menemukan titik terang, memilih pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Bibi bilang kalau bisa dilanjutkan dalam tunangan. Namun, aku belum menanggapi. Ibu pun turut bertanya apakah aku bersedia dengan perempuan yang aku jumpai. Berbagai pertimbangan antar mau atau tidak, merasuki jiwa yang sedang kebingungan dan penuh pertimbangan. Pertanyaan terus diulang-ulang. Akhirnya dengan berat hati menjawab bersedia asalkan perempuan tersebut sama-sama bersedia.
Hari itu antara bahagia dan berat hati. Pasalnya perempuan tersebut masih umur muda, sedangkan aku tinggal menghitung beberapa bulan untuk lulus kuliah. Rencana awal setelah lulus kuliah sudah ada pendamping hidup yang akan menemani nanti ketika sidang Wisuda S1.
Pasrah saja, prosesnya dilanjutkan oleh keluarga dan Family. Terpenting semuanya sudah saling setuju antara kedua belah pihak, sehingga nanti akhirnya tidak terjadi apa yang tidak diinginkan. Aku pun fokus ke aktivitas seperti biasanya. Kuliah dan membantu sekolah. Mengikuti kegiatan organisasi kampus seperti biasanya. Tidak lagi berdekatan dengan para mahasiswi guna untuk menjaga hubungan yang sedang berjalan.
Beberapa hari kemudian, kabar terbarunya niat baik sudah diterima oleh keluarga calon tunangan. Semuanya sudah saling menyetujui, baik dari pihak keluarga maupun pihak calon. Hati yang tidak tenang teratur rapi menjadi senang. Acara resepsi tunangan tinggal menunggu keluarganya yang masih ada di luar negeri. Rencananya segera pulang untuk berpartisipasi menyempurnakan acara tersebut.
#cerpen #ceritakehidupan #ceritamenarik #ceritasedih
Next Story'
